SEBUAH GUBUK KECIL


Namaku Muhamad husni aku lahir di sumedang dengan sebuah keluarga yang sederhana,aku mempunyai 3 orang kakak dan 1 orang adik, dan aku ingin bercerita tentang SEBUAH GUBUK KECIL.
Rumah yang mempunyai kenangan yang tak akan terlupakan selama hidupku ini, Alhamudulilah aku hidup berkecukupan dan tidak kekurangan. keluarga ku menempati rumah yang luasnya sekitar 10x4 meter, tak bertembok dan hanya bilik menutupi rumah itu.
dirumah tersebut hanya ada 2 kamar, yang satu untuk kamar Ayah ibu ku , dan yg satunya lagi untuk 2 kakak perempuan ku. dan aku bersama adik kakak laki2 ku hanya mengAmparkan sebuah kasur kecil yg diamparkan di depan televisi. 

Waktu kecil aku suka bermain dengan adikku, dan permainan yang sering ku lakukan bersama adikku adalah SESMACKDONAN, itu adalah permainan terinspirasi Acara SMACK DOWN, cara bermainnya adalah aku dan adikku silih bergantian menSmack. itu kadang membuatku sering bertengkar dengan adikku tercinta, "Naon Licik maneh mah ni Sakali ewang atuh" itu lah lontaran adikku ketika aku memukulnya terlalu kencang. meskipun kita selalu bertengkar, aku tak pernah membenci adikku sendiri, semuanya hanya iseng belaka. kadang aku tidur dimana saja bisa di kamar ayahku, ataupun kakak ku, bahkan aku sering tidur di kursi tamu karena bagiku itu lebih nyaman.  Tiap pagi yang selalu membangunkan adalah ibuku, “heh gera Harudang, gera Sholat!” ibu ku tak pernah lupa untuk menyuruh anak2 nya untuk sembahyang namun kadang aku suka Tidur terus bahkan aku pernah disiram oleh ibuku karena aku tukang tidur. 
Tiap pagi aku mandi di kamar mandi yang hanya sebesar 2x2 meter dan hanya setengah yg tertutup, jadi kepala sampai leherku akan terlihat dari dapur, karena mungkin begitu BANYAKnya penghuni rumah lantas aku pun suka MANDI BARENG bersama Adikku agar Tidak membuang Waktu. Seperti biasa aku selalu mengerjai adikku dimana ia berada termasuk di Kamar mandi, di kamar mandi pun kami selalu bertengkar dan aku selalu dimarahi oleh ayah ku, “ehh HAREUREUY wae Mandi teh nya !!”. pagi itu seperti biasa ayahku selalu menghangatkan motornya disaatku memakai kaos kaki ku, itu adalah hal yang paling khas yang masih aku ingat sampai sekarang. Dengan pakaian yg rapih aku pun meminta uang kepada ayahku sebagaimana Anak Sekolahan “ Pak Menta Acis” ayahku selalu memberiku uang 2000 Rupiah dan itu cukup untuk aku jajan di Sekolah Dasar. 
Aku Sekolah di SDN Bangkir. Letaknya tak jauh dari rumah ku, jadi wajar kalo semua saudara2 ku semuanya lulusan SD tersebut. Sepulang sekolah aku selalu langsung pulang kerumah dan jarang pergi kemana2. “ Ni, Gera Emam!” ibuku selalu menyuruhku Makan Sepulang Sekolah dan aku sering makan sambil menonton TV, hal yg biasa aku lakukan dirumahku adalah Menonton TV sambil Tiduran diatas Kursi Panjang dan menepuk-nepuk bagian belakang kursi tersebut, itu adalah bagian yang tak akan lupa dalam hidupku.
Saat aku SMP kelas 3 Kejadian itu pun terjadi, Rumahku terdapat benteng batu yang berada di belakang rumah, jadi rumahku dibawah sebuah benteng Batu.  disaat maghrib aku dan adikku habis pulang BerHujan-hujanan dan aku pun seperti biasa mandi Bersama adikku, setelah aku selesai mandi aku dan adikku Menyalakan Komputer dan menyalakan Internet yang masih dengan cara Dial-Up meskipun Koneksinya lambang SANGAT, Tapi aku masih bersyukur masih punya Internet. Dan saat itu Hujan rintik masih mengguyur daerahku, aku dan adikku sedang asyik2 nya bermain Komputer. Sore itu hanya ada Ibuku, adikku dan kakak perempuan ku yang ada di rumah itu. Alangkah Terkejutnya Suara seperti Batu yang Berjatuhan itu datang seketika dan ternyata Memang Benteng yang ada dibelakang rumahku ternyata Ambruk. Beruntungnya hanya Bagian dapur dan Kamar Mandi ku yang Kena Tumbukkan batu besar itu. Semuanya yang ada disana sangan Shock mengalami kejadian itu. Aku sampai menggigil padahal aku tidak merasa kedinginan. Akhirnya ayahku memutuskan untuk membongkar rumah tersebut dan berencana membangun rumah baru. Saat rumahku di bangun aku menginap dirumah kakekku, disana aku jadi lebih sering bangun pagi karena kebiasaan nenekku yang sangat baik dan hampir semua orang yang berada dirumah itu selalu bangun pagi. Saat itu lah aku menjalani kehidupan baru tanpa sebuah rumah yang tak akan pernah aku lupakan yang selalu menjadi kenangan di masa lampau.
Aku tak pernah berpikir bahwa aku akan selalu merindukan Sebuah Rumah yang hanya berukuran kecil namun mempunyai Kenangan yang amat luas. 
~MUHAMAD HUSNI~

Comments

Popular posts from this blog

Apa yang dicari di Dunia

Ayahmu