Sebelum Lonceng Dibunyikan


 Berbicara tentang lonceng. Arjuna selalu terbayang ke dua hal, sekolah dan kematian. Lonceng di sekolah adalah sebuah pertanda, tanda masuk kelas, pergantian pelajaran atau pulang. Dan lonceng kematian adalah waktu dimana semua hubungan nafas dengan badan akan terpisah. Lonceng itu akan berbunyi di detik yang tak bisa ditunda. Di masa yang tak bisa kau majukan sedikit atau dimundurkan barang beberapa jenak. Saat lonceng itu dibunyikan, gagak-gagak hitam akan serempak membentuk malam. Menjerit parau, seiring azan maghrib yang mengalun lewat corong surau.
Arjuna masih tergagap. Merangkai semua kata-kata yang akan diucapkannya nanti, tepat ketika istrinya pulang. Arjuna tidak gagu, hanya mulutnya kaku. Lantaran semua amarah yang selama ini dia pendam berakumulasi di ujung lisannya. Ia tak dapat menyusun, kata mana yang pertama kali akan dia ucapkan pada istrinya nanti. Hanya sudut matanya sesekali menatap bibir pintu. Malam semakin sempurna.
Tak perlu lah dituliskan bagaimana kecintaan Arjuna pada istrinya, Sulastri namanya, Lastri panggilannya. Tapi semua orang kampung juga tahu, desas-desus perselingkuhan Lastri dengan Pak Lurah. Meski tak ada yang melihat langsung bukti perselingkuhan itu, maka Arjuna menjadi berang. Apalagi belakangan Lastri kerap pulang malam dan berdandan cantik saat akan pergi. Kata Lastri, dia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan di kota. Memang, Lastri itu cantik, penampilannya menarik. Wajar dia mudah mendapat pekerjaan seperti itu. Arjuna juga tahu itu.
Malam makin menunjukkan kuasanya saja. Arjuna bahkan bisa mengeja dendang derik-derik jarum jam di tangannya. Tapi dia mencoba bersabar saja. Mungkin sebentar lagi Lastri pulang, pikirnya. Arjuna memang penyabar, bahkan ketika dua minggu lalau dia memergoki istrinya tengah menenggak minuman keras dia juga masih bisa bersabar. Tak ada tampar. Tak ada pesta perkelahian bingar. Tapi Arjuna takut, semuanya akan terlambat bagi Lastri nantinya, padahal lonceng akan dibunyikan.
Ketakutan Arjuna juga muncul ketika dua minggu sebelum kejadian itu, dia mendapati Lastri tengah berdua dengan lelaki di ruang tamu rumahnya. Kala itu Lastri sibuk merapikan rambutnya yang entah kenapa bisa beracak-acakan. Ekspresi Lastri juga mencurigakan, tapi Arjuna hanya menghajar lelaki itu sampai tak sadarkan diri. Sedang Lastri, masih saja dipeluknya, dirangkulnya dengan cinta. Dia takut, Lastri tidak bisa berubah padahal lonceng bersiap memanggil nama setiap orang.
Saat malam telah sempurna menguasai jagat, Arjuna beranjak. Dia tak mungkin lagi menunggu Lastri seperti orang bodoh di rumah sederhana ini. Arjuna akan ke kota dengan sepeda motornya. Dia butuh 20 menit untuk mencapai ujung desa. Ketika ia akan keluar gapura peringatan 17 Agustus desanya, sebuah suara memanggilnya. Itu bukan suara istrinya, itu suara lelaki.
“Jun, ada berita buruk buat kamu”
“kenapa Mas?” Arjuna waswas dan sedikit cemas.
Mana mungkin Arjuna mengucap salam lagi. Dan ketika pintu berhasil didobrak, tampaklah Lastri tengah ditindih oleh Pak Lurah. Yang pasti Arjuna hanya manggut-manggut. Minimal dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa apa yang orang-orang katakan adalah benar.
Tak mungkinlah dia menghajar Pak Lurah atau menampari Lastri. Di kasus sebelumnya dia telah diproses di kantor polisi dengan tuduhan penganiayaan. Di kasus ini, bisa saja dia akan dikenai pasal KDRT. Arjuna memutar badan, sejoli tak lazim tadi hanya terperangah tak berlisan. Setengah sadar, Lastri mengenakan pakaian dan berlari mengejar Arjuna. Sesungguhnya dia sungguh mencintai Arjuna.
Di hatinya hanya ada Arjuna seorang. Tak ada yang lain. Lihat saja dia berlari sambil memasang pengait bra nya mengejar Arjuna yang tak lagi perduli. Dia hanya milik Arjuna seorang. Dia melakukan ini agar bisa bersenang-senang saja. Dia menjerit-jerit memanggil nama Arjuna. Arjuna tak menoleh barang sekilat pun. Lastri sadar kalau permintaan maaf dan penyesalannya telah terlambat.
Semua menjadi bukti dan akumulasi ketakutan Arjuna. Sebuah truk sampah menyudahi petualangan Lastri. Jalannya yang sempoyongan dan terlalu masuk ke badan jalan, membuat orang cuma bisa berucap, sesungguhnya semua yang bernyawa pasti akan mati.
Siapalah Arjuna. Dia menjatuhkan sepeda motornya. Berlari mengejar jasad Lastri. Tak lagi berdesah. Arjuna menyadari kalau ketakutannya telah terbukti. Lastri tak berubah padahal lonceng telah memanggil namanya. Semua telah terlanjur dan lonceng telah dibunyikan. Dia tahu, tadi Lastri telah memohon dan meratap maaf padanya, tapi tadi semua telah terlambat.
Terlambat bagi Arjuna.  Dia tak meminta maaf padahal lonceng telah dibunyikan.

Src: http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/02/18/sebelum-lonceng-dibunyikan-sebuah-cerpen-renungan/

Comments

Popular posts from this blog

Apa yang dicari di Dunia

Ayahmu